Selasa, 17 Mei 2016

Puisi Rantai Bersalju



Rantai Bersalju
Diujung padang pasir gemertik rembulan malam
Lantunan ayat kian mendayung selam
Dinginnya malam membasahi pohon yang gugur diantara sudut dinding kelam
Kau mengikat layunya sekam rindang kedinginan tercekam
            Rantai hati yang dibias besama runtuhnya salju semakin curam
            Ilusi dingin menaburkan genggam dentingan silam
            Keremunan cinta berentetatan lensa foreskal bohlam
            Runtuhnya kegelapan membuat badan membeku tertelan sunyinya malam
            Akulahsang pejuang alam. . . . . . . . .   

By Nurul sholehuddin     

Puisi Sirkulasi Kerinduan



Sirkulasi Kerinduan
Melangkah memuja pilu
Bersama gelombang senandung rindu
Rintihan yang mengusik kalbu
Jiwa yang tenang meneriakkan sejuta rindu yang terbelenggu
Pori- pori nafas dibakar selembar bayanganmu
            Denyut jantung tak terlepas oleh syahdunan belaianmu
            Persendian tulang terurai bersama gumpalan rindu dalam rongga dadaku
            Setiap tetesan nadi menjadi saksi bisu
            Diantara dinding benteng  pertahanan mulai membeku
            Tubuh seakan diguyur derasnya ayunan kelabu
Flamboyan sedapnya udara kian terayun oleh lantunan waktu
Yang selalu berdendang diujung rindu
Kini hati terbelah gemercik seuntaian ambigu


By: Nurul Sholehuddin

Senin, 11 Mei 2015

Bersamamu Aku Tegar

Bersamamu Aku Tegar
Ku sadar..disini arti ketulusan yang sesungguhnya
Yang tak kudapati...di tempat lain!
Ku mengerti..makna kebersamaan yang sebenarnya
Hanya denganmu..bukan yang lain!

Disini juga, tak pernah ada kebohongan, seperti tempat lain
Semua berjalan jujur, tanpa pura-pura
Ini bukan basa-basi...seperti kata politisi
Sahabatku.....arti kejujuran yang nyata

Tawa dan canda terdengar lepas di semua bahagiaku
Tangis pun mengalir pilu di setiap dukaku
Kurasakan beban itu, bukan apa-apa
Selagi bisa kita berbagi dalam suka dan sedih

Sahabatku, Tuhan telah mengirim malaikat
Yang bersemayam di jiwamu
Kini kutau mengapa? Tuhan memilihmu
Hadir diantara tawa dan tangisku

Engkau adalah pilihan dari kehendak-Nya
Sahabatku, waktu terus berjalan..itu artinya
Harus melangkah terus kedepan
Jalan ini sangat panjang, takkan kuat sendirian

Beratnya hidup, harus diperjuangkan
Sahabatku, bersamamu aku hidup
Bersamamu aku tegar
Tak goyah, meski di hadang badai

Sahabat..! yakinlah
Bersama, kita akan tegak berdiri
Jangan pikul sendiri semua beban
Biarlah segala menjadi milik kita

NASIHAT SAHABAT

NASIHAT SAHABAT
Awan hitam membawa kegelapan
Jatuhkan tetes dari penyesalan
Sungguh, sesal tak ada guna kawan
Tak akan pernah kau temukan jawaban

Awan hilang, bawa pelangi senyuman
Bawa terang dari kebahagiaan
Sungguh, itu tak datang dari penyesalan
Usahalah pengundang kebahagiaan

Maka hapuslah tetes penyesalan
Mari bersama, maju hadapi hujan
Payungilah langkahmu dengan iman
Dan temukanlah pelangi impian

TAK AKAN KU LUPA

TAK AKAN KU LUPA
Saat koridor-koridor itu mulai terbasahi
Gelap menyelimuti setiap orang berseragam
Kau datang membawakanku pelangi
Saat hujan luka itu masih menari diatas perih

Kau hadirkan senyum terindah
Saat aku tenggelam dalam larutnya kegelapan
Sedikitpun tak akan ku lupa
Saat kau membawaku pada kehidupan

Sedikitpun tak akan ku lupa
Saat senyummu menjadi satu-satunya nafas untukku

Tempat Pembuangan Akhir Cerita Mereka

Maaf…
Aku memang bukan pendengar dan penghayat cerita yang baik
Apalagi memberi penjelasan rumitnya cerita itu

Tapi setidaknya…
Tak lepas statusku menjadi tempat pembuangan akhir cerita itu
Walau lebih sering aku teremehkan
Datang ketika dibutuhkan saja

Tapi tak masalah bagiku
Terima kasih sahabatku
Kalian masih menganggapku ada

KITA SELALU BERSAMA

KITA SELALU BERSAMA
Sedih, sunyi, canda, tawa kita lewati bersama
Kemanapun bagai tali yang telah diikat kuat, yang tak dapat dilepas
Kau hibur aku disaat gundah dan kuhibur kau disaat kau membutuhkan
Kita saling melengkapi satu sama lain

Tapi berbeda
Berbeda pada saat itu
Pada saat waktu tak berpihak kepada kita
Kau dan aku terpisah

Dan akhirnya,
Akhirnya kau meninggalkan aku dengan sosok bayangmu
Bayangmu yang tak tahu dimana tubuhnya
Yang sekarang sudah tak mempunyai hati dan perasaan
Seperti bukan lagi sahabatku

Kamis, 02 April 2015

Janji Manismu

Janji Manismu
Dulu ku pernah mengira…
Kita akan bersama selamanya
Dulu kau pernah berjanji
Akan hidup berdua sehidup semati
Tapi kini yang kau beri
Hanya sebuah pengkhianatan,asa
dan rasa kecewa
Apa salah dan dosaku padamu??
Sehingga kini kau pergi dengan dia
Kau permainkan aku dengan
perasaanmu itu
Kau tipu aku dengan senyuman
manismu
Kau pergi dengan janji janji yg
tlah kau buat
Sakit ….
Pernahkah kau sadari
Kau sudah melukai hatiku ini
Kini aku hanya bisa merenung meratapi rasa sakit di hati ku ini
Dulu ku pernah mengira…
Kita akan bersama selamanya
Dulu kau pernah berjanji
Akan hidup berdua sehidup semati
Tapi kini yang kau beri
Hanya sebuah pengkhianatan,asa
dan rasa kecewa
Apa salah dan dosaku padamu??
Sehingga kini kau pergi dengan dia
Kau permainkan aku dengan
perasaanmu itu
Kau tipu aku dengan senyuman
manismu
Kau pergi dengan janji janji yg
tlah kau buat
Sakit ….
Pernahkah kau sadari
Kau sudah melukai hatiku ini
Kini aku hanya bisa merenung meratapi rasa sakit di hati ku ini

Berharap

Berharap
Dengan tak menghubungimu,
tak juga mengirim pesan untuk menanyakan kabarmu.
Mungkin ini tak biasa,
Tapi bagiku,
Inilah cara terbaik mencintaimu.
Aku mencintaimu dengan menjauh darimu,
Bukan karena aku membencimu,
Justru karena aku sangat mencintaimu,
Dan aku ingin menjagaku juga menjagamu,
Menjaga tulusnya hatimu, juga menjaga kesucian hatiku.
Inilah caraku mencintaimu,
Dalam diamku,
Dalam ketulusanku,
dalam kesucianku,
dalam cara tak biasaku,
Meski sulit,
Meski berat,
Meski sakit untukku,
namun ku tahu ini pilihan terbaik agar kita tak terlalu saling mengharap.
Karena berharap hanya pantas pada Sang Pemberi Nafas,
Karena berharap hanya pantas digantungkan pada Sang Pengatur Detak Jantung,
PadaNya kuharap Dia khan menjagamu untukku,
PadaNya kutitipkan hatimu,
Biarlah ku hanya bisa menyapamu lewat senandung do'a,
Agar Untukmulah segala kebaikan,
Agar bersamamulah segala keindahan.

Waktu

Waktu

Lihat sorot mata yang memerah dan berkaca
Air pun enggan tuk keluar disela lubang cakrawala
Karena tangis tak lagi berguna
Jerit dan bisik tak dapat lagi kusuarakan
Seolah hati yang hitam kebiruan ini tak lagi berguna

Angkat dan raih tangan ku Tuhan
Aku ingin bersegera bangkit
Aku ingin berkarya dan bermakna kembali
Buat aku melangkah…
Waktu tak akan pernah menunggu
Dan bumi pun tak akan pernah
Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing
Hanya aku dan Engkau kini
Takkan mungkin aku berkeluh kesah dengan mereka
Izinkan aku berdialog
Dengan setiap ketikan jari yang Kau ciptakan ini

Galangan Dunia

Galangan Dunia

Hidupku bagaikan kincir air yang selalu berputar setiap waktu
Terkadang aku diatas
Namun ada juga saatnya dibawah
Rintangan ...
Cobaan yang kuhadapi terkadang
Membuatku kuat, lemah bahkan menangis

Disaat aku lemah
Aku terjatuh ke dalam galangan dunia
Aku tersesat dalam perjalanan hidupku
Yang tidak tentu arahnya
Aku terus berjalan
Mencoba mencari jalan
Agar aku keluar dari ujian ini
Agar aku dapat kembali kejalan benar
Disaat aku kuat
Cobaan terus menghampiriku
Bertahan melawan segala cobaan itu
Berusaha untuk berani menghadapinya
Ya Allah sesungguhnya hidupku ada didalam tangan-Mu
Hidupku atas kuasa-Mu
Hidupku adalah milik-Mu
Saat ini aku dalam ujian-Mu
Berikan aku kekuatan
Berikan aku ketabahan
Agar aku kuat untuk menghadapinya

Rabu, 25 Maret 2015

Puisi Dzawawi Imron

SAJAK GAMANG

dibiarkannya orang-orang merangkak
selarat kerbau menarik bajak
dibiarkannya cacing yang tak punya kuasa

kalau anak-anak menyanyi tentang daun-daun hijau
bagus, karena bapaknya parau bagai harimau
musik dan gamelan kadang bikin gamang
sungai dan hutan jangan diurus kancil atau siamang


DOA I

bila kau tampakkan secercah cahaya di senyap malam
rusuh dan gemuruh mengharu biru seluruh tubuh
membangkitkan gelombang lautan rindu
menggebu menyala
dan lagu-Mu yang gemuruh
menyangkarku dalam garden-Mu

biarkan aku menari dalam lagu-Mu
gila lestari melimbang badan
ah, hatiku tertindas gatal dan pedih
meski nikmat semakin erat memelukku

aku meronta dalam kutuk-Mu
duhai, naung kasih-Mu melambai tangan

sekali lagi kau kilatkan cahaya di tengah malam
aku silau, hanya tangan yang menggerapai
golang golek tubuhku dalam yakin
ah, kegilaan begitu mesra
tangis bahagia yang bersimbah di raut jiwa
menggermang nyala bulu-bulu seluruh tubuh
terbisik di hati puji syukur memanjat rindu

Senin, 23 Maret 2015

MENAPAKI JEJAK


MENAPAKI JEJAK
Ku tapaki jejak jalan hidupku ini
silih berganti
pagi siang dan malam datang berganti
aku tetap saja begini
Tak ada yang berubah
semua tetap sama
apa yang ada di depan mata maupun jiwa
tak ada yang berbeda
Aku jenuh
mulai jenuh dan akan jenuh
dengan hidup ini
dengan semua ini
Harapan pudar bagai kabut
Jatuh bagaikan hujan
Menetes bagaikan tangis
Aku menangis !!
Apa yang kudapat
Tak seperti yang kuingat
Tak seingin yang kuucap
Dan tak sebayang yang kuharap

Rabu, 25 Februari 2015

puisi

SEMPURNA ITU BUKAN AKU
Oleh Nurul Sholehuddin

Harapan di hati hendak melukis senyuman diwajahmu
Membuat hatimu bahagia karena kehadiranku
Dan menghapus sejuta guratan kesedihan di kedua matamu

Namun apa daya ...
Bila kata yang terucap malah menyakiti hatimu
Bila tingkah yang tergerak mengusik ketenanganmu

Ma'af ...
Bila kehadiranku telah mengusik ketentraman hatimu
Aku lelah untuk selalu mencoba menjadi yang sempurna dimatamu
Segala usahaku bagaikan sebutir debu dihadapanmu ...

Harusnya engkau tau ...
SEMPURNA ITU BUKAN AKU ...



Cinta Sejati
Kujalani hidup mengaruhi samudra
Mengayuh dayung menjalankan bahtera
Mencari penawar rasa di hati
Mencari makna cinta sejati
Kini ku tahu makna cinta
Cinta bukanlah sekedar rasa
Cinta bukanlah sekedar tutur kata
Dan cinta, bukan sekedar pengorbanan raga
Jika cinta sekedar rasa
Pasti hati kan tersiksa
Jika cinta sekedar ucapan
Manusia pasti dalam kebinasaan
Jika cinta sekedar pengorbanan
Tiada jiwa ini merasa aman
Cinta sejati adalah perasaan
Terungkap dengan ucapan
Tertuang dengan pengorbanan
Aku untukmu Sayang
Aku masih disini
Terpaku, termenung, terdiam
Dalam kelam dan gelapnya malam
Melayang angan dan fikiran
Entah,,menuju kemana arahnya
Akupun masih disini..
menelusuri detik demi detik
Waktu yang berjalan mengukir kenangan
Senyum, tawa, sedih, dan gembira
Semua menyatu dalam perasaan
Aku masih disini
Menanti…berharap..
Aku masih tetap disini
Memeluk bayangmu dalam kegelapan
Mendekap Kasihmu dalam hening malam
Aku,,untukmu saying




Mencari Makna Cinta
Embun pagi telah mengering
Pancaran mentari membuat dedaunan menguning
Mataku tertegun menatap langit
Melepas hati yang terbelit
Kini ku bisa tersenyum
Melihat dunia penuh rasa kagum
Setelah kian lama hatiku menangis
Akan cinta yang kian terkikis
Kini ku bisa gembira
Manjalani hidup dengan orang-orang tercinta
Setelah jiwaku berduka
Merintih dan tersiksa
Aku bersyukur
Api cinta tak membuatku hancur
Kini ku ingin hidup kembali
Mencari makna cinta sejati
Patah Hati
Aku sedih dengan ukiran yang indah memuja akan dunia
Luka yang memahat
Luka yang begitu menusuk
Luka yang yang menghujam jantungku
Tapi tidak ada yang tahu bahwa aku kecewa dalam cerita...

Sampai untuk berpikir tentang cinta
Dengan hati bukan mata rasakan cinta
Untuk kehilangan akal sehat
Dan untuk membuat aku tenggelam...

Tenggelam dalam kesedihan
Tenggelam dalam kepedihan dan kehancuran
Dengan semua janji-janji busuk (jambu) mu
Dengan semua Janji-janji palsu mu
Membuat sayap ini patah dan mati ...

Aku menangis meratapi takdir
Merasa seakan dunia ini tak berarti lagi
Dan kini hanya kesedihan, kekecewaan yang menemaniku
Cinta ini sungguh aku tidak mengerti...

Cinta
Hidupku bagaikan kincir air yang selalu berputar setiap waktu
Terkadang aku diatas
Namun ada juga saatnya dibawah
Rintangan ...
Cobaan yang kuhadapi terkadang
Membuatku kuat, lemah bahkan menangis

Disaat aku lemah
Aku terjatuh ke dalam galangan dunia
Aku tersesat dalam perjalanan hidupku
Yang tidak tentu arahnya
Aku terus berjalan
Mencoba mencari jalan
Agar aku keluar dari ujian ini
Agar aku dapat kembali kejalan benar
Disaat aku kuat
Cobaan terus menghampiriku
Bertahan melawan segala cobaan itu
Berusaha untuk berani menghadapinya
Ya Allah sesungguhnya hidupku ada didalam tangan-Mu
Hidupku atas kuasa-Mu
Hidupku adalah milik-Mu
Saat ini aku dalam ujian-Mu
Berikan aku kekuatan
Berikan aku ketabahan
Agar aku kuat untuk menghadapinya
 

 Gunanya Hati
Lihat sorot mata yang memerah dan berkaca
Air pun enggan tuk keluar disela lubang cakrawala
Karena tangis tak lagi berguna
Jerit dan bisik tak dapat lagi kusuarakan
Seolah hati yang hitam kebiruan ini tak lagi berguna

Angkat dan raih tangan ku Tuhan
Aku ingin bersegera bangkit
Aku ingin berkarya dan bermakna kembali
Buat aku melangkah…
Waktu tak akan pernah menunggu
Dan bumi pun tak akan pernah
Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing
Hanya aku dan Engkau kini
Takkan mungkin aku berkeluh kesah dengan mereka
Izinkan aku berdialog
Dengan setiap ketikan jari yang Kau ciptakan ini

Kamis, 19 Februari 2015

asik

Puisi - Wajah Kekasih by nurul sholehuddin Kali pertama aku mengenalimu Seakan kita pernah bertemu Masihkah ingat lagi masa lalu Semasa kau dan aku masih kecil dulu Adakah ini suatu takdir yang telah diturunkanTuhan telah menemukan kita kembali Untuk kita bersatu hidup bersama Aku akan berjanji padamu Lihatlah mataku, pandanglah wajahku Senyumlah kau untukku sayang Agar aku dapat melihatmu Dengan tulus hati iniKini aku tlah jatuh cinta padamu

Jumat, 23 Januari 2015

Mustofa Bisri



Oleh : Mustofa Bisri

mana ada negeri sesubur negeriku?
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia
dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku
ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku
mana ada negeri sekaya negeriku?
majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia
mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi

BILA KUTITIPKAN
Oleh : Mustofa Bisri

Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung
Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai
Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang
Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Pastilah gunung meluapkan api. Tapi
Kan kusimpan sendiri mendung dukaku
Dalam langit dadaku
Kusimpan sendiri badai resahku
Dalam angin desahku
Kusimpan sendiri gelombang geramku
Dalam laut fahamku.
Ku simpan sendiri.




PILIHAN
Oleh : Mustofa Bisri

Antara kaya dan miskin tentu kau memilih miskin
Lihatlah kau seumur hidup tak pernah merasa kaya

Antara hidup dan mati tentu kau memilih mati
Lihatlah kau seumur hidup mati-matian mempertahankan kematian

Antara perang dan damai tentu kau memilih damai
Lihatlah kau habiskan umurmu berperang demi perdamaian

Antara beradab dan biadab tentu kau memilih beradab
Lihatlah kau habiskan umurmu menyembunyikan kebiadaban dalam peradaban

Antara nafsu dan nurani tentu kau memilih nurani
Lihatlah kau sampai menyimpannya rapi jauh dari kegalauan dunia ini

Antara dunia dan akhirat tentu kau memilih akhirat
Lihatlah kau sampai menamakan amal-dunia sebagai amal akhirat

Antara ini dan itu
Benarkah kau memilih itu?

DZIKIR MALAM
Oleh : Mustofa Bisri

Langit memimpin dzikir malam
Membaca wirid hening dalam hitungan renyai hujan dan manik-manik keringat dinginku
Angin mendesirkan tasbih bersama pucuk-pucuk pohon di mulut pori-poriku
Sesekali kilat memucatkan rumput-rumput mencuatkan lidah-lidah laut
dalam gemuruh tahmid bersama khouf rojaku
Sementara petir dan guruh bergantian meneriakkan takbir dari puncak diamku
Langit memimpin dzikir malam
Di bumi kelam gelisahku
















BULAN TERTUSUK LALANG
Oleh : D. Zawawi imron

Bulan Tertusuk Lalang 
bulan rebah
angin lelah di atas kandang
cicit-cicit kelelawar
menghimbau di ubun bukit
di mana kelak kujemput anak cucuku
menuntun sapi berpasang-pasang
angin termangu di pohon asam
bulan tertusuk lalang
tapi malam yang penuh belas kasihan
menerima semesta bayang-bayang
dengan mesra menidurkannya
dalam ranjang-ranjang nyanyian

KETEMU JUGA AKHIRNYA
Oleh : D. Zawawi imron

kucari sosok tubuhmu 
pada bias sukma di langit
meski langit tak mungkin secantik kenangan
nyatanya kau termangu di tikung sungai
merenungi percakapan daging dan tulang
ketemu juga akhirnya
bayang-bayang yang akan kekal
terkatung pada ranting penyesalan
kalau besok kubangun bendungan di sungai hijau
maka air harus mengalir
menyusul roh-roh yang belum pulang




























Aku Merindukanmu, O, Muhammadku
Oleh : Mustofa Bisri

Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan
Lembut-wibawamu

Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengar suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah-meningkah
Telingaku pun kutelengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu-menghibur suaramu

Aku merindukanmu, o. Muhammadku

Ribuan tangan gurita keserakahan
Menjulur-julur kesana kemari
Mencari mangsa memakan korban
Melilit bumi meretas harapan
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu

O, Muhammadku, O, Muhammadku!

Di mana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Aku pun meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku

Aku merindukanmu, O, Muhammadku

Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak umatmu

O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu -

bagaimana melawan gelombang kebodohan
Dan kecongkaan yang telah tergayakan
Bagaimana memerangi
Umat sendiri? O, Muhammadku

Aku merindukanmu, o, Muhammadku

Aku sungguh merindukanmu.