Jumat, 23 Januari 2015

Mustofa Bisri



Oleh : Mustofa Bisri

mana ada negeri sesubur negeriku?
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia
dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku
ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku
mana ada negeri sekaya negeriku?
majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia
mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi

BILA KUTITIPKAN
Oleh : Mustofa Bisri

Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung
Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai
Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang
Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Pastilah gunung meluapkan api. Tapi
Kan kusimpan sendiri mendung dukaku
Dalam langit dadaku
Kusimpan sendiri badai resahku
Dalam angin desahku
Kusimpan sendiri gelombang geramku
Dalam laut fahamku.
Ku simpan sendiri.




PILIHAN
Oleh : Mustofa Bisri

Antara kaya dan miskin tentu kau memilih miskin
Lihatlah kau seumur hidup tak pernah merasa kaya

Antara hidup dan mati tentu kau memilih mati
Lihatlah kau seumur hidup mati-matian mempertahankan kematian

Antara perang dan damai tentu kau memilih damai
Lihatlah kau habiskan umurmu berperang demi perdamaian

Antara beradab dan biadab tentu kau memilih beradab
Lihatlah kau habiskan umurmu menyembunyikan kebiadaban dalam peradaban

Antara nafsu dan nurani tentu kau memilih nurani
Lihatlah kau sampai menyimpannya rapi jauh dari kegalauan dunia ini

Antara dunia dan akhirat tentu kau memilih akhirat
Lihatlah kau sampai menamakan amal-dunia sebagai amal akhirat

Antara ini dan itu
Benarkah kau memilih itu?

DZIKIR MALAM
Oleh : Mustofa Bisri

Langit memimpin dzikir malam
Membaca wirid hening dalam hitungan renyai hujan dan manik-manik keringat dinginku
Angin mendesirkan tasbih bersama pucuk-pucuk pohon di mulut pori-poriku
Sesekali kilat memucatkan rumput-rumput mencuatkan lidah-lidah laut
dalam gemuruh tahmid bersama khouf rojaku
Sementara petir dan guruh bergantian meneriakkan takbir dari puncak diamku
Langit memimpin dzikir malam
Di bumi kelam gelisahku
















BULAN TERTUSUK LALANG
Oleh : D. Zawawi imron

Bulan Tertusuk Lalang 
bulan rebah
angin lelah di atas kandang
cicit-cicit kelelawar
menghimbau di ubun bukit
di mana kelak kujemput anak cucuku
menuntun sapi berpasang-pasang
angin termangu di pohon asam
bulan tertusuk lalang
tapi malam yang penuh belas kasihan
menerima semesta bayang-bayang
dengan mesra menidurkannya
dalam ranjang-ranjang nyanyian

KETEMU JUGA AKHIRNYA
Oleh : D. Zawawi imron

kucari sosok tubuhmu 
pada bias sukma di langit
meski langit tak mungkin secantik kenangan
nyatanya kau termangu di tikung sungai
merenungi percakapan daging dan tulang
ketemu juga akhirnya
bayang-bayang yang akan kekal
terkatung pada ranting penyesalan
kalau besok kubangun bendungan di sungai hijau
maka air harus mengalir
menyusul roh-roh yang belum pulang




























Aku Merindukanmu, O, Muhammadku
Oleh : Mustofa Bisri

Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan
Lembut-wibawamu

Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengar suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah-meningkah
Telingaku pun kutelengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu-menghibur suaramu

Aku merindukanmu, o. Muhammadku

Ribuan tangan gurita keserakahan
Menjulur-julur kesana kemari
Mencari mangsa memakan korban
Melilit bumi meretas harapan
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu

O, Muhammadku, O, Muhammadku!

Di mana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Aku pun meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku

Aku merindukanmu, O, Muhammadku

Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak umatmu

O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu -

bagaimana melawan gelombang kebodohan
Dan kecongkaan yang telah tergayakan
Bagaimana memerangi
Umat sendiri? O, Muhammadku

Aku merindukanmu, o, Muhammadku

Aku sungguh merindukanmu.

Puisi Perpisahan



PUISI PERPISAHAN 
by Nurul Sholehuddin

Kini, hati kami tergores kesedihan
Ketika terucap salam perpisahan
Walau air mata kami tak berlinang
Bukan berarti suatu kerelaan
Saat-saat langkah terayun
Seiring pekatnya malam yang terus merambat                            
Aku ingin sampaikan seikat salam padamu
Wahaiiii……sekalian kawan – kawanku tercinta
Tentang penuh cerita penuh tawa dan air mata
Tentang sebuah kisah perjalanan panjang
Yang pernah kita toreh di Madrasah tercinta ini

Kawan…
Saat tetes air matamu tak kuasa dirimu bendung
Lantaran kebersamaan ini begitu agungnya
Sedih terasa menggayut sukma
Lalu berlabuh dalam lautan iba
Dan serasa dunia ini begitu sempit dan gelap
Hingga membuatmu tak tampak                                    
Dimanakah gerangan berlabuh?
Seperti saat – saat kemaren, suaramu begitu indah terdengar
Canda tawamu begitu lucu merayu
Tapi kini kau anugrahkan kesedihan ini
Dalam bingkai perpisahan

Perpisahan……!!
Siapa yang takkan sedih perasaanya
Hati siapa takkan terseret perih
Bila detik – detik indah kebersamaan
Harus berakhir di ujung perpisahan
Walau sebelumnya tak pernah kita suka                                  
Lantaran hati begitu eratnya menyatu
Saling berbagi suka, menabur canda dan tawa
Dalam diri tak pernah bertanya – tanya
Bahwa dalam setiap pertemuan pasti ada perpisahan

Tuhan…
Adakah kirannya sekelumit kata yang pernah kami ucapkan keharibaanmu
Sehingga sekian lama gemelut rasa yang terpendam
Kini engkau buraikan dengan sejuta kenangan
Betapa hati ini menangis pilu
Dengan dentingan doa selalu kami panjatkan                             
Dan hari ini juga engkau telah kabulkan
Kepasrahan ini bukanlah sebuah kerelaan
Saat sahabat dan guru – guru kami telah berkemas tuk memohon diri
Kami hanya pasrah
Bahwa semua ini semata - mata karena kehendakMu.


Biarlah…..!!
Semua akan kami dekap dalam kembara yang panjang
Juga sebagai tanda terimakasih kepada almamater Mambaul Ihsan tercinta
Yang telah menorehkan sejuta ilmu di dada kami             
Sungguh kini telah tiba menyapa kita                                    
Diantara sekian ribu mata menatap sedih
Dibalik detak jantung,jiwa meratap perih
Tak terasa air mata ini terus mengalir
Sebagai saksi bisu betapa sedih bila hati mengenangnya

Namun….
Biarlah raga ini berpisah,kawan
Akan tetapi hati kita tetaplah Satu
Dan Kemanapun kaki ini melangkah
Jiwa ini akan senantiasa terpatri untuk mengenangmu                           
Juga bagi sang pahlawan tanpa jasa
Dialah guru – guru tercinta
Yang telah berjuang demi masa depanmu nanti

Kawan………..
Masih ingatkah….. ?semua perilaku yang disuguhkan untuk gurumu?
Ketika dengan tulus guru membimbing…..tetapi,kalian terlena dengan canda
Ketika dengan ikhlas guru mengasuh…..tetapi,kalian berperilaku tak santun        
Ketika dengan lembut guru menegur ……tetapi,kalian jawab dengan ledekan
Ketika dengan sabar guru menasehati…..tetapi,kalian………tetap tak hiraukan!
Oh…… semua terasa sesal di dada kini……..

Guru….
Dalam rentang waktu yang panjang
Dan dari detik ke detik kian silih berganti
Kau begitu tabah mengajari kami tentang etika
Sopan santun dan arti kesetiaan
Kau didik kami ilmu-ilmu kejujuran
Tapi yang kami lakukan adalah penghianatan                            
Kau bekali kami tentang tatak rama dan kesopanan
Tapi tak henti hentinya kami membuat kerusakan
Kau ajari kami agar berakhlaq yang mulia
Tapi yang kami perbuat justru yang tercela
Kau dikte kami tentang arti kebersamaan
Tapi yang kulakukan adalah pertikaian

Guru…
Di atas pentas ini
Izinkan kami menatap wajahmu
Izinkan kami mengenang namamu                                        
Izinkan kami mencatat jasa- jasamu
Izinkan kami untuk yang terakhir kalinya memandang wajahmu
Izinkan kami untuk minta maaf atas semua kesalahan kesalahan kami
Yang membuatmu begitu tersakiti,,,
Wahai…..guru guru kami maafkan kami…………………..maafkan kami.

Wahai…. guru – guru kami
Kami bukanlah untuk meninggalkanmu
Apalagi untuk melupakanmu                                       
Kami hanya ingin berlabuh,mengarungi samudra cita – cita
Menapaki jejak – jejak suci
Maka izinkalah kami berucap untuk yang terakhir kalinya
Selamat berpisah wahai guru – guru kami
Selamat berpisah wahai madrasah kami
Selamat berpisah wahai adik - adik kami                      
Selamat berpisah wahai sahabat - sahabat kami
Jasa dan air matamu akan kami kenang walau sampai akhir nanti

Selasa, 06 Januari 2015

NAMAMU ADA HINGGA KINI
Oleh Nurul Sholehuddin

Tujuh desember kutau ada keistimewaan
kutau ada rasa beradu satu
seolah ada rindu bersenda gurau
tawa terasa di atas bahagia

Kutau ada imajinasi yang berikhtisar
menyulam kisah dalam diam
kusampaikan kisah yang indah
hanya untuk namamu

Nama yang ada dalam setiap sudut hatiku
masih merenggut tautan luar biasa
pertanda kau luar biasa
meskipun kini hidupku tidak denganmu

Kau tau seberapa jauh aku berpikir
bahkan aku sempat membawamu tersenyum
jauh menerobos mimpiku
dan hingga kini hanya kau isi hatiku