Oleh : Mustofa Bisri
mana ada negeri sesubur
negeriku?
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia
dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku
ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku
mana ada negeri sekaya negeriku?
majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia
mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia
dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku
ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku
mana ada negeri sekaya negeriku?
majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia
mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi
BILA KUTITIPKAN
Oleh : Mustofa Bisri
Oleh : Mustofa Bisri
Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung
Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai
Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang
Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Pastilah gunung meluapkan api. Tapi
Kan kusimpan sendiri mendung dukaku
Dalam langit dadaku
Kusimpan sendiri badai resahku
Dalam angin desahku
Kusimpan sendiri gelombang geramku
Dalam laut fahamku.
Ku simpan sendiri.
PILIHAN
Oleh : Mustofa Bisri
Antara kaya dan miskin
tentu kau memilih miskin
Lihatlah kau seumur
hidup tak pernah merasa kaya
Antara hidup dan mati
tentu kau memilih mati
Lihatlah kau seumur
hidup mati-matian mempertahankan kematian
Antara perang dan damai
tentu kau memilih damai
Lihatlah kau habiskan
umurmu berperang demi perdamaian
Antara beradab dan
biadab tentu kau memilih beradab
Lihatlah kau habiskan
umurmu menyembunyikan kebiadaban dalam peradaban
Antara nafsu dan nurani
tentu kau memilih nurani
Lihatlah kau sampai
menyimpannya rapi jauh dari kegalauan dunia ini
Antara dunia dan akhirat
tentu kau memilih akhirat
Lihatlah kau sampai
menamakan amal-dunia sebagai amal akhirat
Antara ini dan itu
Benarkah kau memilih
itu?
DZIKIR MALAM
Oleh : Mustofa Bisri
Langit memimpin dzikir
malam
Membaca wirid hening
dalam hitungan renyai hujan dan manik-manik keringat dinginku
Angin mendesirkan tasbih
bersama pucuk-pucuk pohon di mulut pori-poriku
Sesekali kilat
memucatkan rumput-rumput mencuatkan lidah-lidah laut
dalam gemuruh tahmid
bersama khouf rojaku
Sementara petir dan guruh
bergantian meneriakkan takbir dari puncak diamku
Langit memimpin dzikir
malam
Di bumi kelam gelisahku
BULAN TERTUSUK LALANG
Oleh : D. Zawawi imron
Bulan Tertusuk
Lalang
bulan rebah
angin lelah di atas
kandang
cicit-cicit kelelawar
menghimbau di ubun bukit
di mana kelak kujemput
anak cucuku
menuntun sapi
berpasang-pasang
angin termangu di pohon
asam
bulan tertusuk lalang
tapi malam yang penuh
belas kasihan
menerima semesta
bayang-bayang
dengan mesra
menidurkannya
dalam ranjang-ranjang
nyanyian
KETEMU JUGA AKHIRNYA
Oleh : D. Zawawi imron
kucari sosok
tubuhmu
pada bias sukma di
langit
meski langit tak mungkin
secantik kenangan
nyatanya kau termangu di
tikung sungai
merenungi percakapan
daging dan tulang
ketemu juga akhirnya
bayang-bayang yang akan
kekal
terkatung pada ranting
penyesalan
kalau besok kubangun
bendungan di sungai hijau
maka air harus mengalir
menyusul roh-roh yang
belum pulang
Aku Merindukanmu, O, Muhammadku
Oleh : Mustofa Bisri
Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan
Lembut-wibawamu
Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengar suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah-meningkah
Telingaku pun kutelengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu-menghibur suaramu
Aku merindukanmu, o. Muhammadku
Ribuan tangan gurita keserakahan
Menjulur-julur kesana kemari
Mencari mangsa memakan korban
Melilit bumi meretas harapan
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu
O, Muhammadku, O, Muhammadku!
Di mana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Aku pun meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku
Aku merindukanmu, O, Muhammadku
Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak umatmu
O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu -
bagaimana melawan gelombang kebodohan
Dan kecongkaan yang telah tergayakan
Bagaimana memerangi
Umat sendiri? O, Muhammadku
Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Aku sungguh merindukanmu.
Oleh : Mustofa Bisri
Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan
Lembut-wibawamu
Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengar suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah-meningkah
Telingaku pun kutelengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu-menghibur suaramu
Aku merindukanmu, o. Muhammadku
Ribuan tangan gurita keserakahan
Menjulur-julur kesana kemari
Mencari mangsa memakan korban
Melilit bumi meretas harapan
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu
O, Muhammadku, O, Muhammadku!
Di mana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Aku pun meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku
Aku merindukanmu, O, Muhammadku
Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak umatmu
O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu -
bagaimana melawan gelombang kebodohan
Dan kecongkaan yang telah tergayakan
Bagaimana memerangi
Umat sendiri? O, Muhammadku
Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Aku sungguh merindukanmu.